Salut, Program Menanam Mata Air dari WNI Ini Diakui oleh PBB

Rosita-Y.-Suwardi-Wibawa

Pegiat Lingkungan dan Pendiri Yayasan Kinarya Anak Bangsa Rosita Y. Suwardi Wibawa (48) asal Klaten, Jawa Tengah, menginisiasi program Menanam Mata Air yang bertujuan untuk menumbuhkan mata air di area-area sasaran.

Rosita menggagas program “Menanam Mata Air” atau “Nandur Tuk Banyu”, demi melestarikan sumber daya air di Indonesia.

Program ini, juga merupakan upaya berbasis masyarakat yang menitikberatkan pada edukasi dan pelibatan masyarakat lokal dalam melestarikan sumber daya air.

Secara umum, program Nandur Tuk Banyu berfokus pada beberapa bidang utama. Di antaranya adalah mendidik masyarakat terkait pentingnya melestarikan sumber daya air, melibatkan masyarakat untuk melestarikan sumber daya air, mengadvokasi kebijakan dan peraturan yang mendukung pelestarian sumber daya air, serta mempromosikan penggunaan air yang berkelanjutan.

Adapun beberapa rencana yang dilakukan Rosita untuk mengembangkan program ini, adalah dengan menjaga dan merawat mata air yang ada, memulihkan mata air yang hilang di tempat yang sama, serta menanam mata air baru di wilayah sasaran.

Mengutip dari VOA Indonesia, pada Water Forum Conference 2023 di New York, Amerika Serikat (AS), yang digelar baru-baru ini, program Menanam Mata Air gagasan Rosita berhasil mendapat pengakuan dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Setelah memperoleh pengakuan dari PBB, artinya Yayasan Kinarya Anak Bangsa yang didukung oleh pemerintah Indonesia dan PBB, akan mengeluarkan sertifikasi untuk korporasi yang terlibat dalam program menanam air.

Saat itu, ia membagi pengalamannya dengan warga dunia lain dan membangun dukungan untuk memperkuat aksi-aksi nyata pengelolaan air yang berkesinambungan.

Tujuan utamanya, adalah mendapat perhatian dari duta lingkungan dunia seperti Leonardo DiCaprio sebagai tombak untuk melestarikan air, sehingga upaya itu dapat dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat.

Menurut Rosita, meskipun sumber air di berbagai wilayah Indonesia sangat melimpah, tetapi adanya pertumbuhan penduduk, industrialisasi, dan perubahan iklim membuat adanya penurunan sumber daya air yang menyebabkan kelangkaan air. Tidak hanya pelestarian air yang harus diperjuangkan, tetapi juga pengadaan air minum yang sehat.

Untuk itu, melalui yayasannya Rosita terus berupaya untuk mendidik dan melibatkan masyarakat lokal demi melestarikan dan mengelola sumber daya air.

Sebagai informasi, program Nandur Tuk Banyu diawali Rosita lima tahun lalu di Klaten yang mengalami kesulitan air. Namun, kini program tersebut telah meluas ke berbagai wilayah.

“Kami angkat menjadi program nasional karena tidak hanya daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah saja yang kekeringan, ternyata di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra mulai ada keluhan kekeringan air. Jadi, memang kebanyakan karena ekspansi manusia dan ekowisata yang tanpa dibarengi dengan pelestarian air, menyebabkan hilangnya air tanah,” jelas Rosita dalam keterangannya, dikutip Jumat (28/4).

Rosita melanjutkan, nama program “Menanam Mata Air” dipilih karena targetnya adalah keluarnya air dari tanah.

Pasalnya, kata Rosita, sumber itulah yang dibutuhkan, sehingga ia berfokus memilih pohon yang mempunyai kapasitas dan fungsi untuk menahan air di dalam tanah, seperti preh, areh, gayam, dan beringin yang banyak menahan air.

Di sisi lain, untuk masalah perolehan dana, Rosita mengatakan programnya disponsori oleh pihak perusahaan yang ikut mendukung lingkungan, terutama air.

“Tiap perusahaan, kan, memiliki tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsinility (CSR),” tutup Rosita.

Berkat dukungan dari banyak pihak, program pelestarian air yang berawal di Klaten itu, kini telah bermanfaat bagi penduduk desa setempat.

 

https://daaitv.co.id/DAAI-WP/salut-program-menanam-mata-air-dari-wni-ini-diakui-oleh-pbb/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *